Keikhlasan merupakan salah satu amalan hati yang paling agung. Amal yang besar bisa menjadi kecil apabila tidak disertai keikhlasan, sedangkan amal yang sederhana bisa menjadi besar di sisi Allah apabila dilakukan dengan hati yang ikhlas. Karena itu para ulama salaf sangat memperhatikan niat dan selalu khawatir apabila amal mereka tercampuri oleh riya' dan keinginan mendapatkan pujian manusia.
Allah Ta'ala berfirman:
"Padahal mereka tidak diperintah kecuali agar beribadah kepada Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya."
(QS. Al-Bayyinah : 5)
Ikhlas berarti seorang hamba tidak menginginkan pujian manusia, tidak menginginkan kedudukan, ataupun popularitas, melainkan semata-mata hanya mengharap ridha Allah.
"Sesungguhnya amal-amal itu tergantung pada niatnya."
(HR. Bukhari no. 1 dan Muslim no. 1907)
Hadits ini merupakan salah satu hadits paling agung dalam Islam dan menjadi landasan seluruh amal.
Para sahabat bertanya: "Apa itu syirik kecil wahai Rasulullah?" Beliau menjawab:
"Riya'."
(HR. Ahmad)
Seorang muslim hendaknya senantiasa mengoreksi niatnya agar tidak mencari pujian manusia.
"Jika kamu menampakkan sedekahmu maka itu baik. Tetapi jika kamu menyembunyikannya dan memberikannya kepada orang-orang fakir, maka itu lebih baik bagimu."
(QS. Al-Baqarah : 271)
"Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari mempersekutukan-Mu sementara aku mengetahuinya, dan aku memohon ampun kepada-Mu atas apa yang tidak aku ketahui."
(HR. Ahmad)
"Amal yang paling berat adalah menjaga keikhlasan, karena hawa nafsu memiliki bagian di dalamnya."
— Sufyan Ats-Tsauri رحمه اللهKeikhlasan adalah sebab diterimanya amal. Oleh karena itu, seorang muslim hendaknya senantiasa memperbaiki niat, menghindari riya', dan memohon kepada Allah agar diberikan hati yang ikhlas. Semoga Allah menjadikan seluruh amal kita ikhlas karena-Nya semata dan menerima seluruh ibadah yang kita lakukan.